LEO ARI: TENTANG LAGU SEHEMBUS NAFAS, SELAMA-LAMANYA, "SCARED, ANXIOUS AND HOPELESS"


Teks: Zhafirin Zulkifli
Foto: Leo Ari


"Kaca yang pecah lebih baik daripada bentuk yang sempurna diletakkan dimana - mana. Kesempurnaan kadangkala membosankan." Kata - kata ini membawa semula kali pertama penulis berjumpa Leo Ari atau Adli Nazrin tanpa sengaja di Rumah Seni Selangor, Januari lalu.
"Kaca yang pecah setidaknya membuatkan kau melihat diri kau dari sisi yang lain." Tambah Leo Ari. 


Melalui muzik, aku lebih mengenali Leo Ari melalui lagu Karma, kolaborasi bersama penyajak kegemaran aku, yang pernah menyajikan sajak-sajak dalam buku Protopunk, iaitu Adam Kasturi. Jika rumah aku dilanda banjir atau dijilat api, aku akan selamatkan buku Protopunk ini terlebih dahulu. Itulah penangan Protopunk. Jika anda masih belum memiliki buku tersebut, beristighfarlah.

Baru-baru ini, Leo Ari memuatnaik status tentang single 'Sehembus Nafas, Selama-Lamanya' yang dirilis setahun yang lalu. Lagu ini turut dimuatkan dalam album kompilasi, Botanika.


Sebuah lagu pop yang mudah dihadam oleh pendengar, transisi dari rilisan 'Karma' ke 'Sehembus Nafas, Selama-Lamanya' tidaklah ketara meskipun lima tahun sejak 'Karma' diriliskan. Lirik-lirik yang ringan dengan cerita yang jelas, Leo Ari masih lagi berada di zon yang tenang dan nyaman tanpa ada eksperimen yang ketara. Melalui akaun sosial media Leo Ari, beliau menjelaskan lirik lagu 'Sehembus Nafas, Selama-Lamanya' adalah tentang persoalan tentang hidup dan bernyawa. "When you look for flicker of light, or a glimmer of hope guide you home, but find nothing in the still of darkness." Jelas Leo Ari mengenai maksud bait lirik 'Sehembus Nafas, Selama-Lamanya'.

"Try closing your eyes, and making your way in this world, using only your hands as navigation, to find light; something that can only be found through sight. That is how I felt at the time. Scared, Anxious and hopeless."



Ketidakpastian tentang esok adalah mengapa kita harus menjalani kehidupan, persoalan tentang setiap nafas yang dihembus adalah menerima segala kesakitan, kematian dan keindahan yang ada. "With realization of how death is the only certainty in this world." Menurut Leo Ari. "Thoughts of suicide starts swimming around. At the time of writing, I had nothing to ground my life in, and so I anxiously thought about the prospect of dying. So many people who are alive want to die, but you never see a person come back to life and say I want to live. Maybe death is way better than this 'shithole'.   

Mengingat kembali kata-kata Leo Ari di Rumah Seni Selangor, suatu masa di Januari lalu, Leo Ari mengatakan "Kehidupan adalah ruang." Aku mengangguk. Belum sempat aku bertanyakan lebih mendalam, Leo Ari terus menerpa dengan soalan "Bro, mana arah kiblat? aku nak solat." 

Comments